{"id":2334,"date":"2025-11-27T02:34:07","date_gmt":"2025-11-27T02:34:07","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahriau.com\/?p=2334"},"modified":"2025-11-27T02:34:09","modified_gmt":"2025-11-27T02:34:09","slug":"rumah-kosong-dihuni-anak-pank-dan-pak-ogah-membikin-resah-warga-aktivitas-mencurikan-sering-terjadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/2025\/11\/27\/rumah-kosong-dihuni-anak-pank-dan-pak-ogah-membikin-resah-warga-aktivitas-mencurikan-sering-terjadi\/","title":{"rendered":"Rumah Kosong Dihuni Anak Pank dan Pak Ogah Membikin Resah Warga, Aktivitas Mencurikan Sering Terjadi"},"content":{"rendered":"\n<p>Pekanbaru \u2014 Majalahriau.com &#8211; Sebuah rumah kosong nyaris rubuh di kawasan belakang Warnet Dragon, tepat di depan area kampus Universitas Riau, kini menjadi sumber keresahan baru bagi warga sekitar. Rumah yang dengan kondisi lapok sejak lama tidak berpenghuni itu kini diduga kuat dijadikan tempat tinggal sekelompok anak pank dan pak ogah serta lokasi aktivitas mencurigakan, termasuk dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu.<\/p>\n\n\n\n<p>Warga menuturkan, sejak keberadaan kelompok tersebut menempati rumah tua hampir roboh itu, aktivitas mencurigakan kerap terlihat. Mobilitas keluar-masuk pada larut malam, percakapan dengan nada keras, hingga bau menyengat yang diduga berasal dari penggunaan narkotika. Kondisi ini membuat warga semakin tidak nyaman dan merasa wilayah mereka mulai tidak aman.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya soal aktivitas gelap, warga juga mengaku sering kehilangan barang dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari sandal, tabung gas, helm, barang kecil di teras rumah, hingga peralatan bengkel ringan milik warga sekitar. Semua kejadian itu terjadi sejak rumah kosong tersebut mulai dihuni oleh kelompok yang tidak dikenal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah terlalu sering kami kehilangan barang. Mereka berkeliaran, numpang hidup di rumah itu, tapi lingkungan kami yang kena imbasnya,\u201d keluh salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Kamis ( 27\/11 )<\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan warnet yang beroperasi lebih dari 24 jam di depan rumah kosong itu justru menambah deretan keresahan warga. Aktivitas malam yang tak pernah berhenti membuat kawasan tersebut semakin rawan dan menjadi tempat ideal bagi para pelaku untuk keluar masuk tanpa menimbulkan kecurigaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Situasi ini membuat warga gerah dan menuntut tindakan tegas dari Pemerintah Kota Pekanbaru, khususnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mereka meminta aparat menertibkan, merelokasi, dan menutup akses rumah kosong tersebut sebelum menjadi sarang kejahatan yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami bukan melarang orang mencari tempat tinggal, tapi jangan menjadikan lingkungan kami sebagai tempat yang meresahkan. Pemerintah harus turun tangan. Jangan tunggu sampai ada korban,\u201d tegas seorang tokoh pemuda setempat.<\/p>\n\n\n\n<p>Warga menilai, diamnya pemerintah hanya akan memperbesar masalah. Rumah yang hampir roboh itu tidak hanya berbahaya secara fisik, tetapi kini telah berubah menjadi titik rawan kriminal di jantung kota. Bila dibiarkan, bukan tidak mungkin kawasan ini berubah menjadi daerah hitam yang sulit disentuh hukum.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan suara bulat, masyarakat berharap Satpol PP segera melakukan penertiban, membersihkan penghuni ilegal, dan menutup rumah tersebut demi keamanan bersama. Mereka menegaskan bahwa ketenangan lingkungan adalah hak setiap warga, dan pemerintah wajib menjamin hal itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat kini menunggu langkah konkret. Sebab bagi mereka, tindakan tegas bukan hanya permintaan\u2014tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan lingkungan kembali aman, tertib, dan bebas dari ancaman yang meresahkan.tim<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekanbaru \u2014 Majalahriau.com &#8211; Sebuah rumah kosong nyaris rubuh di kawasan belakang Warnet Dragon, tepat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-2334","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kriminal"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2334"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2334\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2336,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2334\/revisions\/2336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2334"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahriau.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=2334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}